Perbedaan Decentralized Finance (DeFi) dan Keuangan Tradisional

Beberapa tahun terakhir ini dapat dikatakan blockchain sedang menjadi primadona di bidang teknologi. Hal ini tentu karena banyak industri yang dapat menjadi lebih efisien dalam proses ketika sudah mengaplikasikan blockchain. Salah satu industri yang siap di disrupsi oleh blockchain adalah industri keuangan mulai dari perbankan hingga sistem keuangannya sendiri. Pada artikel ini kita akan membahas perbedaan sistem keuangan yang sentralisasi dan sistem terdesentralisasi yang sudah menggunakan teknologi blockchain atau yang bisa sering dikenal dengan Decentralized Finance (DeFi).

Baca juga : Apa itu DeFi (Decentralized Finance)

Belajar Lebih Dalam Tentang DeFi !

Bagaimana melipatgandakan uang Anda di ekosistem finansial blockchain dan me-manage risikonya ? Signup email Anda di bawah ini

Karakter dari Bank / industri keuangan tradisional

Bank merupakan raksasa di industri finansial yang memfasilitasi pembayaran, menerima deposit, dan menawarkan kredit kepada individual, bisnis, institusi keuangan lainnya hingga pemerintah. Industri perbankan ini dapat dikatakan sangat besar dimana total kapitalisasi pasar dari 10 bank ternama di dunia memiliki valuasi sebesar 2 triliun USD. Namun di sisi lain terdapat industri cryptocurrency dengan total kapitalisasi market sebesar 200 miliar USD per 31 Desember 2019.

perbedaan DeFi dan bank

Bank merupakan bagian vital dari setiap mesin yang berputar di industri keuangan dimana mereka mampu memindahkan uang ke penjuru dunia dengan memfasilitasi jasa pengiriman (deposit, penarikan dana hingga transfer), memperpanjang lini kredit (pinjaman) dan lainnya. Namun, bank dikelola oleh manusia dan diatur oleh kebijakan pemerintah sehingga rentan terhadap resiko yang berkaitan dengan manusia seperti kesalahan pengelolaan dan korupsi. Krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2008 dimana pengambilan resiko yang berlebihan oleh bank sehingga pemerintah terpaksa memberikan dana talangan secara besar-besaran kepada bank. 

Baca juga : Tentang DeFi yang perlu Anda tahu

Decentralized Finance (DeFi) hadir untuk menawarkan sistem keuangan yang lebih baik dengan menggunakan internet serta teknologi blockchain khususnya di tiga segmen perbankan berikut:

1. Sistem pembayaran dan pengiriman uang dari DeFi (Decentralized Finance)

Jika Anda sudah pernah mencoba mengirimkan uang kepada rekanan yang berada di luar negeri tentu Anda sudah memahami permasalahan yang terjadi. Pengiriman uang yang melibatkan bank antar negara akan memakan waktu berhari-hari disertai dengan biaya-biaya. Tidak hanya itu saja, biasanya hal pengiriman uang ke luar negeri juga berkaitan erat dengan isu dokumentasi, kepatuhan terhadap hukum anti pencucian uang, privasi dan lainnya. 

Contohnya jika Anda tinggal di AS dan ingin mengirim 1.000 USD dari bank AS Anda ke akun bank teman di Australia maka Anda biasanya akan dikenakan 3 tipe biaya yaitu nilai tukar dari bank Anda, biaya keluar mata uang internasional dan biaya masuk mata uang internasional. Selain itu uang yang Anda kirimkan perlu beberapa hari untuk sampai tergantung dari lokasi bank penerima. 

DeFi sendiri didukung oleh cryptocurrency dimana Anda dapat melewati beberapa pihak ketiga yang mengambil keuntungan besar dari biaya transfer. Proses transfer di DeFi juga akan lebih cepat karena transaksi Anda akan diproses secara langsung dengan biaya yang lebih murah bila dibandingkan dengan bank. Contohnya adalah Anda dapat melakukan transfer cryptocurrency ke akun manapun di seluruh dunia dalam jangka waktu 15 detik hingga 5 menit tergantung dari beberapa faktor dan tentu saja dengan biaya yang rendah (0.02 USD dalam platform Ethereum).

2. Karakter Aksesibilitas dari DeFI (Decentralized Finance)

Jika Anda sedang membaca artikel ini, maka Anda pasti memiliki akun di bank, memiliki akses atas beberapa fasilitas yang terdapat di bank, dapat membuka tabungan di bank, dapat mengambil pinjaman, melakukan investasi dan hal lainnya. Namun ternyata masih terdapat banyak orang yang tidak beruntung dimana mereka bahkan tidak memiliki akses untuk membuat akun tabungan yang paling standard.

Sumber gambar : worldbank.org

Pada tahun 2017, bank dunia mengestimasikan terdapat 1.7 miliar orang yang tidak memiliki akun di institusi keuangan dan lebih dari setengahnya merupakan warga negara dari negara berkembang. Mereka kebanyakan muncul dari keluarga yang miskin dan alasan utama mereka tidak memiliki akun di bank adalah karena kemiskinan, kondisi geografis hingga masalah kepercayaan. Dapat disimpulkan bahwa bagi 1.7 miliar orang yang memiliki akun di bank bahwa akses ke perbankan bagi mereka merupakan hal yang sulit namun DeFi mampu membuat akses ke institusi keuangan itu menjadi hal yang mudah. Karena mengakses Dapps (Decentralized Application) DeFi hanya memerlukan smartphone dan akses internet kebalikan dari proses verifikasi bank yang panjang. Bank dunia juga mengestimasikan bahwa 2//3 dari 1.7 miliar orang tersebut akan memiliki smartphone dan dan Dapps DeFi dapat menjadi jalan keluar bagi mereka untuk mengakses produk finansial lainnya yang bertentangan dengan bank tradisional. 

DeFi sendiri menggambarkan pergerakan yang menjunjung produk keuangan tanpa batas, bebas sensor dan dapat diakses oleh semua orang. Protokol yang dimiliki DeFi tidak mendiskriminasi dan berlaku sama bagi siapapun yang berada di platform tersebut. 

3. Sentralisasi dan transparansi

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa institusi keuangan yang tradisional dan memiliki regulasi yang berkaitan dengan hukum pemerintah dan regulasi negara seperti bank merupakan salah satu tempat yang paling aman untuk menyimpan dana. Namun tentu saja bank masih memiliki kekurangan dan bahkan dapat gagal. Salah satu contohnya ketika Washington Mutual dengan lebih dari 188 miliar USD pada deposito dan Lehman Brothers dengan jumlah 639 miliar USD di pada aset jatuh pada 2008. Di AS sendiri terdapat lebih dari 500 bank yang mengalami kejatuhan. 

Bank dapat dibilang merupakan titik kegagalan yang paling besar di industri keuangan dimana kejatuhan Lehman Brothers mengawali krisis finansial yang terjadi. Sistem sentralisasi yang terkombinasi antar pengaruh para pihak tertentu dan dana merupakan hal yang sangat berbahaya bila kita merujuk pada hal-hal yang sudah terjadi di masa lampau. 

Transparansi yang diusung oleh DeFi juga terkait dengan masalah dimana para investor reguler tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan oleh institusi keuangan karena krisis 2008 sendiri menyeret lembaga pemeringkat kredit yang memberikan peringkat AAA (investasi terbaik dan teraman) untuk sekuritas yang didukung oleh kredit kepemilikan rumah. 

Hal ini tentu akan berbeda dengan DeFi dimana protokol DeFi dibangun di public blockchain seperti Ethereum yang sifatnya open-source untuk audit dan juga bersifat transparan. DeFi juga pada umumnya memiliki organisasi pemerintahan yang terdesentralisasi untuk memastikan setiap orang mengetahui apa yang sedang terjadi tidak ada individual yang dapat membuat keputusan buruk yang berakibat pada sistem tersebut. 

Protokol DeFi sendiri ditulis dalam baris kode sehingga Anda tidak dapat menipu kode karena sistem DeFi yang memperlakukan setiap partisipan dengan adil dan tanpa diskriminasi. Kode yang ditanamkan juga berjalan sebagaimana mestinya sehingga setiap masalah yang terjadi dapat langsung ditangani dan menjadi bukti yang dapat dipelajari oleh umum. Pada akhirnya, kekuatan terbesar DeFi adalah mampu menghilangkan pihak ketiga dan mampu beroperasi tanpa sensor. 

Perbandingan DeFi Terhadap Sistem Keuangan yang Sentralisasi

Perselisihan, tidak adanya aksesibilitas hingga regulasi yang tidak pasti menjadi isu yang terus berputar di sistem perbankan saat ini. Selain itu masih terdapat banyak masyarakat miskin yang tidak memiliki kesempatan untuk masuk ke sistem perbankan saat ini. Tentu saja hal ini menjadikan bank sulit untuk bersaing di setiap level.

Disinilah DeFi hadir untuk menjembatani kesenjangan yang ada dan memungkinkan industri perbankan dapat dinikmati oleh setiap orang tanpa sensor. Singkatnya, DeFi membuka peluang sebesar-besarnya dan memungkinan user untuk mengakses beberapa instrumen finansial tanpa diskriminasi seperti diskriminasi umur, ras, agama, kewarganegaraan hingga geografis. Namun jika kita berbicara mengenai pro dan kontra dari kedua sistem ini maka masing-masing akan memiliki pro dan kontra nya

3 thoughts on “Perbedaan Decentralized Finance (DeFi) dan Keuangan Tradisional”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *