Mengenal Decentralized Derivatives

 

Decentralized derivatives merupakan token yang memperoleh valuenya dari underlying assetnya, hasil dari suatu transaksi atau pengembangan variabel token yang dapat diobservasi (observable variable). Biasanya token ini membutuhkan oracle untuk menelusuri para variabel dan karena itu maka token ini juga memperkenalkan dependensi dan komponen yang bersifat terpusat. Dependensi ini dapat dikurangi ketika derivative contract menggunakan beberapa sumber data yang bersifat independen. 

Belajar Lebih Dalam Tentang DeFi !

Bagaimana melipatgandakan uang Anda di ekosistem finansial blockchain dan me-manage risikonya ? Signup email Anda di bawah ini

Baca artikel sebelumnya :

Tokenisasi di blockchain

Memahami Decentralized Exchange di Indonesia

Token derivatif sendiri terbagi menjadi 2 tipe yaitu asset-based derivative token dan event-based derivative token. Suatu token dapat dikategorikan sebagai token yang asset-based ketika harga dari token tersebut merupakan dampak dari suatu observable variable dan bukan merupakan hasil dari kinerja aset. 

Asset-based Derivative Tokens

Asset-based derivative tokens merupakan perpanjangan dari model CDP yang sudah dijelaskan sebelumnya. Daripada membatasi penerbitan stablecoin yang dipatok ke dalam USD, jaminan yang terkunci dapat digunakan untuk mengeluarkan token sintetik yang mengikuti pergerakan harga beberapa aset. Contohnya adalah saham yang ditokenisasi, logam mulia serta aset crypto lainnya. Semakin tinggi volatilitas dari underlyingnya maka semakin besar resiko jaminan untuk berada di bawah rasio kolateralisasi. 

Salah satu platform derivatif token yang populer adalah Synthetix dimana platform ini diimplementasikan sedemikian rupa sehingga penambahan atau pengurangan dari total hutang semua peserta bergantung pada agregator harga dari semua aset sintetik yang beredar. Hal ini juga memastikan bahwa token dengan underlying yang sama tetap sepadan dalam arti redemption tidak bergantung pada issuer. Sisi lain dari pendekatan ini adalah user menanggung resiko tambahan ketika mereka mencetak aset karena posisi hutang mereka juga akan terdampak dengan alokasi aset user lain. Namun ternyata, Synthetix tidak memiliki mekanisme untuk likuidasi. 

Contoh use case lainnya dari asset-based derivative token adalah inverse token dimana harga token ditentukan dari kebalikan fungsi / inverse function dari underlying performance token ini dalam kisaran harga yang diberikan. Inverse token ini memungkinkan pengguna mendapatkan eksposur singkat ke aset crypto.

Event-based Derivative Tokens

Event-based derivative tokens dapat didasarkan pada objektivitas observable variable dimana variabel ini memiliki beberapa potensi seperti waktu pengamatan yang sudah ditentukan dan resolution source. Siapapun dapat membeli 1 set lengkap dari sub-tokens untuk event tertentu dengan mengunci 1 ETH di smart contract. 1 set lengkap dari sub-tokens ini terdiri dari 1 sub-token untuk setiap potensi yang dimiliki oleh variabel dimana sub-token ini juga dapat diperjualbelikan secara individual. Ketika harga pasar terpecah maka setiap aset crypto di smart contract akan dibagi di antara pemilik sub-token dari winning outcome. 

Ketika tidak adanya distorsi pasar maka harga ETH dari setiap sub-token harus sesuai dengan probabilitas dari underlying outcome. Dalam keadaan tertentu, prediksi harga pasar ini dapat berfungsi sebagai ramalan yang bersifat desentralisasi bagi harga pasar di beberapa waktu ke depan. Namun sebenarnya resolusi dan harga pasar sangat bergantung pada kredibilitas dari resolution source. Karena hal itu maka event-based derivative token muncul dengan memperkenalkan dependensi eksternal namun mungkin juga dipengaruhi oleh pihak yang jahat secara sepihak. 

Serangan potensial dari vektor ini dapat berupa spesifikasi pertanyaan yang buruk atau menyesatkan, outcome set tidak lengkap yang dapat berakibat pada event yang tidak terselesaikan dan pilihan dari resolution source yang curang atau tidak dapat diandalkan. 

Augur merupakan implementasi yang populer dari pendekatan ini. Augur menggunakan multi-stage resolution dan disputing process dimana hal ini seharusnya dapat meminimalisir ketergantungan sebanyak mungkin dari sumber pelaporan tunggal. Jika komunitas tidak setuju dengan reporter yang ditunjuk maka mereka dapat mulai berdebat dan hal ini tentu dapat menghasilkan outcome yang sebenarnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *