Memahami Decentralized Exchange Indonesia

 

Pada September 2009 terdapat lebih dari 2.800 aset crypto yang diperdagangkan di exchange. Meskipun sebagian besar crypto tersebut tidak relevan terhadap ekonomi dan memiliki market cap serta trading volume yang dapat diabaikan pasti ada kebutuhan untuk marketplace dimana orang dapat trading mata uang cryptocurrency yang lebih populer. Hal ini tentu memungkinkan user untuk menyeimbangkan kembali keinginan investasi mereka yang sesuai dengan referensi dan profil resiko dimana nantinya hal ini akan berguna untuk menyesuaikan alokasi portofolio investasi mereka. 

Belajar Lebih Dalam Tentang DeFi !

Bagaimana melipatgandakan uang Anda di ekosistem finansial blockchain dan me-manage risikonya ? Signup email Anda di bawah ini

Decentralized Exchange Protocol

Pada umumnya, trading ini dilakukan oleh user di exchange yang terpusat. Exchange yang terpusat atau sentralisasi memang lebih efisien namun mereka memiliki problem lainnya dimana untuk dapat trading di exchange tersebut maka user perlu untuk mendepositkan sejumlah aset. Dengan demikian maka secara tidak langsung user kehilangan akses ke aset mereka dan harus mempercayai exchange. Tentu saja jika exchange tersebut merupakan exchange yang tidak profesional maka aset para user terancam hilang dan tidak bisa diakses. Selain itu exchange yang tersentralisasi juga menjadi target retasan dari para peretas karena mereka menyimpan dana yang cukup besar. Tidak hanya sampai situ saja, masalah exchange juga ditambah dengan pengawasan regulasi yang relatif rendah dan penskalaan dari exchange juga harus dilakukan dengan upaya yang besar dan dalam waktu yang relatif singkat. Tentu saja bukan hal yang aneh jika terdapat banyak kasus dimana banyak user yang kehilangan dananya di exchange yang tersentralisasi.

Protokol yang dimiliki oleh decentralized exchange mencoba untuk mengatasi masalah ini dengan menghilangkan masalah kepercayaan. User tidak perlu lagi untuk mendepositkan dana mereka ke dalam centralized exchange dan mereka tetap memiliki kontrol sepenuhnya atas aset mereka sampai akhirnya kegiatan trading tersebut dieksekusi. Kegiatan trading biasanya terjadi di dalam smart contract yang berarti kedua sisi perdagangan digabungkan ke dalam satu transaksi yang tidak dapat dipisah sehingga mengurangi resiko kredit pihak lawan. Jika diimplementasikan dengan tepat maka smart contract dan memiliki peran tambahan yaitu secara efektif membuat banyak perantara seperti layanan escrow dan central counterparty clearing houses (ccp). 

Decentralized exchange yang sudah lebih awal dibuat seperti EtherDelta sudah dipersiapkan dengan sedemikian rupa supaya tidak dapat berinteraksi antar implementasi khususnya tidak ada likuiditas bersama yang menyebabkan volume transaksi relatif rendah dan rentang penawaran yang cukup besar. Biaya jaringan yang tinggi serta proses yang rumit dan lambat untuk memindahkan dana antar decentralized exchange menjadikan peluang arbitrase menjadi tidak berguna. 

Namun baru-baru ini telah ditemukan langkah yang dapat diimplementasikan pada protokol decentralized exchange. Projek ini mencoba untuk merampingkan arsitektur dari decentralized exchange dengan menyediakan standar tentang bagaimana pertukaran aset dapat dilakukan dan memungkinkan setiap exchange yang dibangun di atas protokol untuk menggunakan kumpulan likuiditas bersama dan fitur protokol lainnya. Hal yang paling penting dari projek ini adalah protokol DeFi lainnya dapat memanfaatkan marketplace yang tersedia serta bertukar atau melikuiditasi token bila diperlukan. 

Berikut adalah perbandingan dari beberapa protokol decentralized exchange meskipun beberapa di antaranya bukan exchange secara narrow sense namun tetap dapat dimasukkan ke dalam analisis berikut karena memiliki fungsi yang sama.

 

Decentralized Order Book Exchanges 

Order book yang terdapat di decentralized exchange dapat diimplementasikan ke dalam berbagai cara. Order book ini menggunakan smart contract untuk melakukan settlement transaksi tapi order book ini memiliki perbedaan yang signifikan dari order book pada umumnya. Secara khusus, kita harus bisa membedakan antara order book off-chain dan on-chain.

Keuntungan yang dimiliki oleh on-chain order book adalah memiliki sifat yang sepenuhnya terdesentralisasi dimana setiap order disimpan ke dalam smart contract sehingga nantinya tidak ada penambahan infrastruktur ataupun pihak ketiga. Namun kerugian dari on-chain order book ini adalah setiap aksi yang dilakukan memerlukan transaksi blockchain. Hal ini dapat berakibat pada biaya yang besar dan proses yang lama yang dimana keinginan untuk melakukan trading juga memerlukan biaya. Mengingat bahwa market tersebut merupakan pasar yang bergejolak maka akan terjadi pembatalan order book yang sering sehingga menyebabkan masalah yang lebih parah. 

Karena alasan tersebut maka banyak decentralized exchange yang lebih memilih untuk bersandar pada off-chain order book dan hanya menggunakan blockchain sebagai settlement layer. Off-chain order book dihosting dan diperbarui oleh pihak ketiga yang terpusat atau biasanya disebut dengan relayer. Mereka memberikan informasi yang dibutuhkan untuk memilih order mana yang ingin mereka cocokkan. Karena pendekatan ini memiliki beberapa komponen yang terpusat dan bergantung pada sistem maka peran relayer juga terbatas. Secara khusus relayer tidak pernah mengendalikan dana dan tidak mencocokkan atau mengeksekusi order yang ada. Biasanya relayer menyediakan list order yang ada dan mungkin membebankan biaya atas jasa tersebut. Keterbukaan dari protokol ini memastikan terjadinya kompetisi antara relayer serta mengurangi potensi atas ketergantungan pada relayer. 

Salah satu protokol dominan yang menggunakan approach ini adalah 0x. Protokol ini menghadirkan tipe approach dengan 3 tahap untuk melakukan perdagangan. Pertama, maker perlu mengirim order yang sudah ditentukan kepada relayer untuk dimasukkan ke dalam order book. Kedua, potential taker menanyakan pada relayer dan memilih satu dari order yang ada. Ketiga, taker menandatangani dan menyerahkan order ke dalam kontrak hingga memicu pertukaran atom aset cryptocurrency. 

Smart Contract-Based Liquidity Pools

Liquidity pools merupakan smart contract yang menyimpan setidaknya 2 aset cryptocurrency sebagai cadangan dan memungkinkan siapa saja untuk mendepositkan satu jenis token dan kemudian menarik token jenis lain. Untuk menentukan exchange rate nya, maka smart contract yang berbasis liquidity pools ini menggunakan variasi dari model produk konstan dimana menentukan harga relatif adalah fungsi dari rasio cadangan token di smart contract. 

Perlu untuk diingat bahwa smart contract yang berbasis liquidity pools ini tidak bergantung pada umpan harga eksternal atau yang sering disebut dengan oracles. Kapanpun harga aset di exchange berganti, siapapun dapat mengambil kesempatan untuk melakukan arbitrasi dan menukarkan token dengan smart contract sampai harga di liquidity pool kembali ke harga market yang sekarang. Rentang penawaran yang dilakukan secara implisit atas model produk konstan (serta biaya trading yang kecil) dapat menyebabkan akumulasi dana tambahan. Siapapun yang dapat menyediakan likuiditas atas pool tersebut maka akan mendapatkan pool token yang memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dan menukarkan token mereka dengan saham mengingat adanya potensi dari liquidity pools untuk terus berkembang. Contoh dari protokol yang menggunakan smart contract-based liquidity pools adalah Bancor dan UniSwap. Karena desainnya yang lebih sederhana maka biaya jaringan UniSwap dapat lebih dioptimalkan. 

Smart Contract-Based Reserve Aggregation

Tipe pendekatan lain yang dapat dilakukan adalah mengkonsolidasikan cadangan likuiditas melalui smart contract yang memungkinkan penyedia likuiditas dalam jumlah besar untuk menghubungkan dan mengiklankan harga untuk pair tertentu yang ingin diperdagangkan.

User yang ingin menukarkan token x dengan token y perlu mengirim request trade ke dalam smart contract. Smart contract akan membandingkan harga dari semua penyedia likuiditas, menerima penawaran terbaik dari user dan mengeksekusi trade tersebut. Dengan kata lain, smart contract bertindak sebagai gateway antara user dan penyedia likuiditas serta memastikan eksekusi dilakukan dengan sempurna serta settlement atomic. 

Pendekatan ini tentu sangat bertolak belakang dengan smart contract-based liquidity pools dimana harga tidak ditentukan di dalam smart contract namun ditentukan oleh penyedia likuiditas. Namun, jika persaingan yang ada bersifat terbatas atau tidak ada sama sekali untuk trade pair tertentu maka pendekatan ini dapat mengakibatkan resiko kolusi atau bahkan penetapan harga yang bersifat monopoli. Sebagai antisipasi biasanya cadangan yang dimiliki protokol agregasi ini memiliki beberapa mekanisme kontrol yang bersifat terpusat seperti penentuan harga minimum atau maksimum dari penyedia likuiditas. Dalam beberapa kasus, penyedia likuiditas hanya dapat berpartisipasi ketika sudah melewati background check yang meliputi KYC. 

Implementasi terbaik dari pendekatan ini dilakukan oleh Kyber Network yang berfungsi sebagai protokol backbone untuk berbagai macam Dapps dalam industri keuangan. 

Peer-to-Peer (P2P) / Over-the-Counter (OTC) Protocols

Salah satu alternatif untuk exchange klasik atau liquidity pool adalah protokol P2P. Biasanya protokol ini bergantung pada two-step approach dimana partisipan dapat meminta jaringan kepada rekanan yang ingin menukarkan cryptoasset tertentu dan kemudian menegosiasikan nilai tukar secara bilateral. 

Setelah kedua pihak setuju pada harga maka trade akan dieksekusi di on-chain via smart contract. Bertentangan dengan protokol lainnya, penawaran di protokol ini dapat diterima secara eksklusif oleh pihak yang terlibat di dalam negosiasi tersebut. Secara khusus, tidak mungkin bagi pihak ketiga untuk meminta orang lain menerima penawaran dengan mengamati kumpulan transaksi yang belum terkonfirmasi (mempool). 

Supaya segala sesuatu menjadi lebih efisien maka proses di protokol ini dilakukan secara otomatis. Biasanya, user dapat menggunakan pengindeks off-chain untuk mencari calon penerima tawarannya. Indexer ini dapat dibilang berfungsi sebagai direktori dimana user dapat mengiklankan cryptoasset yang ingin mereka tukarkan. Perlu diingat bahwa index ini hanya berfungsi untuk menghubungkan satu user dengan user lainnya, negosiasi harga tetap dilakukan secara P2P. (Air)swap merupakan contoh sukses pengimplementasian P2P/OTC protokol.

 

Info lain tentang Decentralized Finance :

Apa itu DeFi

Hal penting tentang DeFi yang perlu Anda tahu

 
 

One thought on “Memahami Decentralized Exchange Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *