Apa Itu Decentralized Exchange dan Bagaimana Cara Kerjanya ?

Decentralized Exchange sangat populer akhir-akhir ini sejak pertengahan tahun 2020. Decentralized exchange adalah tempat di mana kita bisa jual, beli, meminjamkan token kita secara decentralized tanpa membutuhkan middleman, dan semuanya melalui smart contract.

Sebagian besar project decentralized finance atau DeFi adalah project decentralized exchange atau DEX. Jadi jika Anda adalah investor DeFI atau tertarik terjun ke dalam dunia decentralized finance Anda harus mengetahui cara kerja dari Decentralized Exchange. Jika Anda adalah seorang programmer / developer, juga penting untuk Anda untuk bisa membangun decentralized exchange sendiri.

Belajar Lebih Dalam Tentang DeFi !

Bagaimana melipatgandakan uang Anda di ekosistem finansial blockchain dan me-manage risikonya ? Signup email Anda di bawah ini

Di artikel ini akan dijelaskan bagaimana decentralized exchange bekerja dan mengenal generasi yang berbeda dari decentralized exchange, di mulai dari decentralized exchange yang paling tua yaitu Etherdelta sampai kepada Decentralized exchange yang kita kenal saat ini seperti Uniswap dan Curve.

 

Apa Itu Centralized Exchange

Untuk memahami decentralized exchange, tentu Anda harus terlebih dahulu memahami centralized exchange. Centralized exchange misalnya Coinbase, Kraken, Indodax yang biasanya memiliki volume trading terbanyak di cryptocurrency.

Biasanya centralized exchange memiliki tingkat likuiditas yang bagus, sangat cepat dan mudah digunakan, memiliki user experience yang sangat baik. Bagaimana cara kerjanya ?

Centralized exchange memiliki server terpusat (centralized server) Trader harus mengisi dana di akunnya dengan mengirim ke address crypto milik centralized exchange, bisa dalam bentuk Bitcoin, Ether atau kripto lainnya.

Hal ini berarti setelah transfer dilakukan maka secara teknis, crypto tersebut bukan milik trader lagi, tetapi menjadi milik exchange crypto. Lalu setelah itu trading bisa dilakukan. Berikutnya diperlukan adanya likuiditas di exchange, trader bisa membuat limit order.

Di limit order, trader bisa memberikan spesifikasi market seperti apa yang ingin ditradingkan, misalnya Bitcoin / USD atau Ether/ USD. Lalu menentukan limit harga. Jika Anda ingin membeli, maka Anda akan menentukan harga beli maksimum Anda. Jika Anda ingin menjual maka Anda akan menentukan harga jual maksimum Anda. Lalu akhirnya Anda memberikan jumlah token yang ingin Anda perdagangkan setelah mengirimkan order Anda ke exchange.

Apa itu Order Book di Centralized Exchange

Order Anda akan ditempatkan ke dalam database yang disebut dengan order book. Order book adalah database dengan 2 kolom : buy order dan sell order di setiap kolomnya dan diurutkan berdasarkan harga.

Untuk order jual akan diurutkan dari harga terendah ke harga tertinggi karena best seller atau penjual terbaik akan memiliki harga terendah.

Sedangkan untuk order beli akan diurutkan  dari yang tertinggi ke terendah karena buy order terbaik adalah yang memiliki limit harga tertinggi.

Di tahap ini Anda akan memiliki database yang merupakan summary intention dari trader. Tetapi di tahap ini Anda tidak memiliki eksekusi trading terjadi. Jika Anda ingin trading terjadi, Anda membutuhkan market order.

Market order adalah jenis order yang tidak menspesifikasikan harga tertentu, namun harganya disesuaikan atau di-match dengan order book di pihak order lainnya. Misalnya Anda ingin menjual aset, berarti akan di match dengan buy limit order dengan algoritma price time matching yang berarti akan dimulai dari best price terlebih dahulu.

Dalam mencocokkan order Anda ke dalam order book, algoritma likuiditas exchange juga akan mengkonsumsi order yang paling tua (lama) terlebih dahulu, jika order Anda terlalu besar, maka algoritmanya akan pindah ke order berikutnya, misalnya jika ada order lain yang sama levelnya tetapi dibuat setelahnya, order ini yang akan dituju berikutnya, akan berpindah ke harga terbaik berikutnya.

Jika order telah terpenuhi dan diselesaikan, maka Anda bisa menarik aset crypto Anda dari centralized exchange ke wallet Anda.

Masalah di centralized exchange

Centralized exchange memiliki beberapa masalah, salah satu masalah terbesar adalah security, karena semuanya bersifat sentralisasi dan semua private key di manage secara sentral. Hal ini menjadi sebuah target yang manis untuk hacker.

Sudah panjang sejarah hack centralized exchange di masa lalu, misalnya Mount Gox di 2013, sampai Kucoin di 2020, dan banyak di antaranya.

Masalah lainnya adalah, sangat mudah bagi government atau pihak regulator untuk menahan kripto Anda, jika mereka tidak menyukai Anda dengan alasan apapun. Mereka tinggal menelpon centralized exchange untuk meminta menahan aset Anda, karena mereka memiliki private key Anda. Hal ini sangat mudah dilakukan oleh centralized exchange.

Bisa kah masalah ini dipecahkan ? Ya, dengan decentralized exchange.

Decentralized Exchange Generasi Pertama

Di tahun 2016, 2017 kita melihat generasi pertama dari decentralized exchange seperti Ether Delta (sudah ditutup 2019).

Perbedaan besar dari decentralized exchange dan centralized exchange adalah, di decentralized exchange Anda tidak perlu memberikan ownership asset crypto Anda kepada entitas lain.

Anda tetap memegang kontrol penuh terhadap token atau aset kripto Anda. Transaksi terjadi melalui smart contract yang ditulis atau dikodingkan di awal di mana tidak memungkinkan untuk siapapun untuk memodifikasi kode smart contract tersebut. Juga tidak ada backdoor.

Secara teknis, sebelum melakukan trading, Anda masih harus mengirimkan aset digital Anda ke smart contract milik decentralized exchange. Namun di kode dari decentralized exchange, tidak ada fungsi yang memungkinkan siapapun untuk mengambil atau menahan aset Anda. Anda bisa menarik aset Anda kapanpun Anda mau.

Order book yang ada berjalan sangat mirip dengan di centralized exchange, menggunakan price matching algorithm

Dari sejarahnya, percobaan pertama dalam membuat decentralized exchange adalah menempatkan order book secara langsung di blockchain (on chain), tetapi ternyata ada masalah besar di mana setiap Anda membuat order, Anda harus membayar gas fee, dan jika Anda ingin meng-cancel atau update, membutuhkan banyak waktu karena anda perlu me-mine transaksi sebelum disimpan di dalam blockchain.

Membutuhkan waktu minimal 15 detik. Akan menjadi masalah besar jika market berubah secara cepat. Jadi Ether Delta menemukan solusi yang lebih baik dengan menggunakan offchain order book.

Ketika Anda membuat limit order atau market order, Anda akan men-sign message dengan private key Anda di address Ethereum Anda dan mengirim order ini kepada centralized server dari Ether Delta, jadi mereka memiliki centralized order book. Ketika order book di Ether Delta mendapatkan match, yang berarti market order match dengan satu atau beberapa limit order, maka server Ether Delta akan mengirimkan transaksi kepada smart contract Ether Delta di Ethereum blockchain. Transaksi ini termasuk signature dari semua trader yang terlibat dalam trading.

Setelah smart contract dari Ether Delta (yang memiliki ownership asset dari berbagai trader) akan memverifikasi signature dari berbagai trader untuk memastikan semua orang akan mendapatkan transfer ownership.

Masalah di Decentralized Exchange Generasi Pertama

Ini adalah sistem yang menarik karena walaupun Anda decentralized, Anda tidak menderita dari masalah memiliki order book yang kuno.

Ether Delta adalah Decentralized Exchange yang berjalan seperti cara di atas.

Selain Ether Delta, juga ada IDEX, tetapi masalah besar dari exchange seperti ini adalah likuiditas. Ada berbagai market yang berbeda dan sangat sulit untuk memiliki volume besar atau cukup.

Contohnya, jika Anda ingin menjual 1000 atau 2000 dollar token, kadangkala Anda harus menunggu beberapa hari, karena Anda bisa memakan banyak sekali liqudity pool untuk market tersebut dan Anda akan terkena slippage yang besar dan hal ini tidak bagus.

Beberapa orang cerdas memutuskan memperbaiki masalah ini dengan membuat decentralized exchange generasi ke dua.

Decentralized Exchange Generasi Ke Dua

Generasi ke dua dari decentralized exchange dibuat oleh Uniswap, ide revolusioner dari uniswap adalah tidak menggunakan order book lagi namun menggantinya dengan liquidity pool.

uniswap decentralized exchange

Dengan liquidity pool, tidak lagi ada market maker, namun Anda memiliki liquidity provider. Ini adalah orang-orang yang memiliki asset dan ingin mendapatkan bunga dari asetnya. Anda akan memiliki 1 pool per market. Contohnya untuk market Ether DAI. Jika ada banyak liquidity provider yang ingin berpartisipasi ke pool ini, mereka harus mengirimkan sejumlah Ether dan DAI. Setelah mereka (liquidity provider) mengirimkan aset kripto ke smart contract dari decentralized exchange, mereka akan mendapatkan token untuk membuktikan bahwa mereka telah mensupply aset kripto tersebut, yang disebut dengan governance token.

Dengan token ini, kapanpun mereka bisa meredeemnya.

Lalu apabila trader ingin bertransaksi, mereka akan mengirimkan order ke liquidity pool.

Perhatikan dalam proses di atas belum ada disebut terkait harga. Liquidity Provider memang tidak menspesifikasikan pada harga berapa aset tersebut diperjualbelikan. Namun harga dikalkulasi secara otomatis oleh smart contract dari decentralized exchange. Dengan menggunakan constant price formula. Semakin kering liquiditas dari token di satu sisi, maka harga asetnya akan menjadi semakin mahal.

uniswap price mechanism

Goalnya adalah memaintain balance dari liquidity pool dengan equal value dari ke dua asset. Tidak harus membuat keputusan harga adalah hal yang hebat karena Anda tidak perlu menjadi professional market maker yang secara terus menerus meng-adjust limit buy atau limit sell.

Jika Anda ingin menjadi liquidity provider, Anda hanya perlu menyediakan token dan mengirimkannya ke liquidity pool dan Anda mendapatkan profit karena setiap kali trader ingin melakukan transaksi jual beli akan membayar trading fee yang dibagikan kepada liquidity provider.

Masalah di Decentralized Exchange Generasi Ke Dua

Konsep yang dibawa Uniswap dan liquidity pool adalah konsep hebat, namun juga memiliki masalah, misalnya karena pricing functionnya, kadang kala Anda akan mengalami slippage yang besar.

Jika Anda ingin membeli token dalam kuantitas besar, Anda akan memiliki masalah yang disebut impermanent loss. Yang berarti, bagi liquidity provider, misalnya Anda membandingkan investor A berinvestasi token di liquidity pool dibandingkan investor B hanya hodl aset tersebut di wallet, kadangkala justru lebih buruk hasilnya jika menempatkan dana di liquidity pool.

Impermanent loss berarti user yang berkontribusi pada liquidity pool dari decentralized exchange bisa melihat token yang distakenya turun nilainya dibandingkan hodl di wallet.

Untuk memecahkan masalah ini, beberapa orang membuat decentralized exchange generasi ke tiga.

Decentralized Exchange Generasi Ke Tiga

Project decentralized exchange generasi ke tiga adalah  Curve Finance.

Masih menggunakan sistem liquidity pool yang dibuat oleh Uniswap. Namun perbedaannya, fungsi pricingnya berbeda.

Masalah dari fungsi pricing dari Uniswap adalah pricing function yang berlaku sama bagi berbagai aset yang berbeda-beda dan memiliki profil risiko yang berbeda-beda. beberapa aset sangat volatile dibandingkan lainnya. Mungkin kita bisa memiliki fungsi pricing yang berbeda tergantung dari volatilitas aset, jadi Curve memutuskan menjadi spesialis dalam hal stablecoin, misalnya USD/DAI.

curve finance

Karena marketnya stablecoin, mereka bersifat stable. Harganya tidak berfluktuasi tinggi. Jadi mereka meng-adjust pricing dengan membuatnya lebih buruk di kedua sisi ekstrim, dan membuatnya lebih baik di tengah-tengah. Inilah ide fingsi pricing di Curve.

Dengan fungsi pricing seperti ini kita memiliki slippage yang lebih kecil dan impermanent loss lebih kecil, pada akhirnya, market yang lebih efisien untuk trader.

(sumber : Curve Finance Whitepaper)

curve finance stableswap

Setelah dilaunch, Curve menarik likuiditas dalam jumlah besar, ke depannya, exchange lainnya akan mengambil ide serupa dengan curve dengan membuat fungsi pricing spesifik sesuai dengan likuiditas aset yang spesifik.

Masih ada masalah lain yang dihadapi oleh decentralized exchange, misalnya masalah scalability di mana untuk bertransaksi di blockchain Ethereum membutuhkan gas fee sangat besar. Banyak riset dilakukan untuk memecahkan masalah ini, misalnya Decentralized Exchange di layer 2 seperti Loopring, memang sangat scalable namun kehilangan composability di decentralized exchange layer 1 mainnet Ethereum.

 

Itu adalah beberapa info yang perlu Anda tahu tentang Decentralized Exchange. Memehami hal ini akan membantu Anda memahami lebih dalam tentang decentralized finance dan decentralized exchange.

3 thoughts on “Apa Itu Decentralized Exchange dan Bagaimana Cara Kerjanya ?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *