Cryptocurrency Memiliki Kekuatan Untuk Merevolusi Sistem Perbankan Yang Korup

Jika Anda tidak familiar dengan istilah cryptocurreny maka mungkin Anda tidak mengetahui apa itu Decentralized Finance (DeFi). Jika Anda familiar maka Anda juga tahu bahwa saat ini siapapun dapat menukarkan uang mereka dengan stablecoin (mata uang crypto yang didukung oleh aset cadangan), menginvestasikan stablecoin di proyek yang menjanjikan dan berharap bahwa investasi mereka akan membuahkan hasil.

Apakah variasi tersebut termasuk dalam skema Ponzi? Tidak menurut Charles Ponzi. Tetapi jelas bahwa pertumbuhan eksplosif platform DeFi didorong oleh masuknya likuiditas yang cepat ke market yang baru dan tidak dapat berlanjut untuk selamanya. Namun demikian, teknologi yang tertanam di infrastruktur ini membuka kesempatan yang sangat besar untuk membangun kembali sistem keuangan global.

Belajar Lebih Dalam Tentang DeFi !

Bagaimana melipatgandakan uang Anda di ekosistem finansial blockchain dan me-manage risikonya ? Signup email Anda di bawah ini

Saat ini, bankir modern merusak karir mereka dengan mengantongi uang klien. Sejak akhir 90-an, ribuan banker di Rusia dari ribuan bank yang ada mengambil alih lebih dari 100 miliar dolar  uang klien mereka dan meninggalkan negara dengan uang curian tersebut atau mereka membuka bisnis baru di rumah tergantung seberapa dilindungi nya kriminal di pemerintahan tersebut.

Fungsi sosial dari bank adalah sebagai sistem pergerakan ekonomi dimana mereka mengizinkan terjadinya transaksi pertukaran antara barang dan jasa, mereka juga terlibat dalam peminjaman, memastikan produksi dan akumulasi sumber daya. Namun, komunitas perbankan dunia telah berubah menjadi “anti-bank” yang fungsinya untuk menyalahgunakan aset nasabah dan melakukan pencucian uang terhadap “uang kotor”, yang jumlahnya meningkat secara global sebesar 1 triliun dolar setiap tahunnya.

Konfirmasi lebih lanjut mengenai hal ini bisa didapatkan di publikasi terbaru yang dikeluarkan oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) mengenai bocornya laporan Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN- divisi di perbendaharaan AS). Berdasarkan dari dokumen ini, 5 bank internasional terbesar melakukan pencucian uang sebesar 2 triliun dolar meskipun otoritas AS sudah mengenakan denda kepada mereka mengenai pencucian yang dilakukan sebelumnya. Sebagai hasilnya, kelas parasit yang sangat besar telah terbentuk dimana kelas ini terdiri dari para bankir, investor palsu, pengacara, auditor dan personel layanan yang memerintah seluruh negara bagian yang disebut sebagai “offshores” dan negara-negara yang ditemukan di dalamnya. Kelas ini hanya menghasilkan “uang kotor”.

Baca juga : Kenapa decentralized finance bisa legal di Indonesia ?

Sayangnya, struktur penegakan hukum nasional dan pengadilan tidak dapat melawan kejahatan ini pada tingkat sistemik karena mereka hanya menyediakan perawatan paliatif dengan memerangi penipuan individu. Sementara itu, orang yang benar-benar menambahkan atau menciptakan nilai nyata di masyarakat dengan mendalami kemajuan atau budaya ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin kurang dapat mengakses sumber daya keuangan. Pendapatan mereka tidak dapat dibandingkan dengan kekayaan orang-orang yang terlibat dalam oligarki global yang tidak memiliki tenaga fisik atau intelektual yang dikeluarkan.

Miliaran orang terputus sama sekali dari layanan perbankan karena tingginya biaya dan tidak adanya minat untuk melayani nasabah yang lebih miskin di pihak bankir, yang tidak memiliki apa-apa untuk dicuri oleh bank. Sistem apartheid keuangan ini akhirnya mendorong setiap negara masuk ke dalam kemiskinan. Konflik ini juga menjadi sangat jelas sekarang di tengah latar belakang resesi yang disebabkan oleh pandemi virus corona. Uang itu sendiri sekarang dicetak dalam jumlah yang besar dan tanpa jaminan oleh lembaga keuangan nasional dan akan mengalami devaluasi.

Cepat atau lambat, piramida keuangan terbalik ini akan runtuh dan bubble yang terdapat di pasar modal pasti akan mencapai puncaknya. Likuiditas yang berlebih dari pasar saham pasti akan masuk ke industri umum dan mengubah nilai uang yang sudah terdenominasi menjadi debu. Hal ini tentu akan menghasilkan pencurian skala besar-besaran. Untungnya, pikiran manusia tidak pernah berhenti. Cryptocurrency yang 10 tahun lalu dianggap sebagai lelucon, saat ini menjadi bagian penting dari sistem keuangan internasional. Langkah selanjutnya adalah untuk mendigitalisasi aset riil termasuk fasilitas produksi, real estate, barang dan jasa dengan kepemilikan yang tercatat di buku besar yang didistribusikan.

Banyak pemerintahan yang meramalkan manfaat dari teknologi ini dan sudah mulai menerapkannya. Pada bulan Maret lalu, German Federal Financial Supervision Authority (BaFin) mengakui cryptocurrency sebagai instrumen finansial. Pada 11 Agustus, German Federal Ministry of Finance  (BMF) dan Federal Ministry of Justice and Consumer Protection (BMJV) mempresentasikan tagihan pada sekuritas digital berbasis blockchain. Xi Jinping, pemimpin negara terpadat dan terkaya kedua di dunia, mengatakan setahun yang lalu bahwa pengembangan blockchain adalah salah satu tugas paling mendesak bagi negara.

Pada bulan April, Central Bank of China yang menjadi bagian dari program pilot memperkenalkan cryptocurrency nasional (DCEP) di 4 kota besar di China. Lokasi untuk 2022 Winter Olympics yang diadakan di Beijing juga akan menjadi dasar untuk menjajaki peluang dengan DCEP. Berita terbaru pada 3 September bahwa Swiss canton of Zug sudah mulai untuk menerima pembayaran pajak menggunakan Bitcoin dan Ethereum. Pada 21 September, United States Office of the Comptroller of the Currency (OCC) dan Securities and Exchange Commission (SEC) mempublikasikan panduan stablecoin dimana panduan ini merupakan panduan nasional pertama yang cukup detail membahas mengenai bagaimana cryptocurrency yang didukung oleh fiat harus diperlakukan sesuai dengan hukum. Karenanya, regulator memberi lampu hijau untuk bekerjasama dengan pencetak (atau pendiri) stablecoin.

 

Dapat kita lihat bahwa sesuatu yang dianggap menjadi mimpi fiksi ilmiah sekarang sudah menjadi kenyataan. Artificial Intelligence sudah dapat mengemudikan kendaraan dan mungkin akan menggeser profesi supir untuk kedepannya. Dengan cara yang sama, teknologi blockchain dan smart contract akan membuat perusahaan tidak perlu untuk memperkerjakan sebagian besar orang di sektor keuangan dan dengan demikian pada akhirnya akan mengeliminasi “bankir” sebagai fenomena sosial.

Dengan adanya Decentralized Finance (DeFi), merupakan hal yang mungkin untuk secara langsung menghubungkan klien bank tradisional tanpa partisipasi perantara dalam bentuk bank itu sendiri, yang fungsinya dalam hal ini dilakukan oleh apa yang disebut dengan “smart contract”. Pada waktu sama, tidak ada yang dapat mencuri uang nasabah karena sistem DeFi melindugi mereka dari orang bank yang serakah. Smart contract hanya tunduk pada hukum matematik dan selain resiko peretasan komputer yang juga ada di perbankan konvensional,  smart contract tidak dapat rusak dan untuk menjalankannya juga tidak membutuhkan sogokan-sogokan yang biasanya terjadi seperti vila atau kapal pesiar.

Projek DeFi saat ini berdasarkan transaksi jual beli token liquid (kebanyakan merupakan cryptocurrency yang bersifat desentralisasi) pada prinsip-prinsip pinjaman yang dijaminkan. Token-token ini lebih bersifat primitif dan berguna untuk pinjaman KPR atau untuk apapun yang dapat disebut “Yield Farming”. Contohnya seseorang dapat menginvestasikan 100.000 USD ke dalam suatu platform DeFi yang berlisensi di Estonia hanya  karena penasaran. 3 hari kemudian user tersebut mengecek walletnya dan mendapatkan investasinya tadi sudah menghasilkan 300 USD dimana keuntungan ini dapat langsung ditransfer ke akun bank nya via exchange crypto.

Ekosistem Keuangan Terdesentralisasi Independen (biasanya disebut dengan bank 4.0) merepresentasikan generasi baru dari bank dimana setiap partisipan adalah penerima manfaat secara bersamaan. Bank 4.0 ini menawarkan pelanggan berbagai layanan bank tradisional dimana layanan ini mencakup pertukaran mata uang, deposit, pinjaman, settlement, layanan tunai serta transfer nasional dan internasional. Perbedaan mendasar dari platform ini berasal dari supranasionalitasnya.

Sistem dari eksekusi smart contract ini didasarkan pada teknologi blockchain yang terletak di jaringan secara bersamaan dimanapun dan kapanpun. Apapun hal yang terjadi pada orang yang bertanggungjawab mengelola sistem tersebut, kewajiban yang ada tetap dapat terpenuhi karena tidak bergantung pada perorangan namun berada di dalam smart contract. Pada kasus ini, perlu untuk memantau kepatuhan hukum dari masalah token yang bersifat credit-collateral dengan undang-undang negara tempat hal tersebut dilakukan.

Aspek yang paling signifikan dari projek ini adalah menyediakan platform kerja untuk sejumlah besar start-up dan inovasi pihak ketiga. Ini merupakan mekanisme yang akan menghubungkan langsung kreator IT di berbasis di Thailand atau pengusaha pengelola sampah di Zimbambwe dengan investor dari Norwergia atau Jepang. Sistem ini juga akan mencakup ratusan dan ribuan proyek orang-orang yang berbakat dimana masing-masing akan menjadi bagian dari infrastruktur global – sama seperti bank besar manapun yang memiliki ratusan dan ribuan proyek yang terkait dengan lembaga keuangan.  Di samping itu, sistem ini menyediakan kesempatan adanya transparansi finansial untuk diimplementasikan ke dalam proyek non-profit contohnya perlindungan terhadap lingkungan atau kegiatan amal dimana terdapat fakta bahwa setengah dari ratusan miliar USD yang dialokasikan setiap tahun di seluruh dunia dicuri secara langsung melalui hal yang disebut dengan “biaya manajemen”.

Crypto-economics memungkinkan sumbangan dalam jumlah berapapun bahkan 1 dolar dapat mengetahui apakah benar sumbangan mereka sampai ke anak miskin di Bosnia yang membutuhkan biaya operasi yang mahal atau kepada petani di Uganda yang membutuhkan teknologi baru. Semua informasi ini dapat sepenuhnya dibuka untuk pihak terkait dengan amal melalui token di blockchain. Maka dapat dikatakan sekarang kita berada di ambang revolusi nyata dalam sistem keuangan internasional dan akhir dari bankster.

Berita DeFi lainnya :

Decentralized Finance Menjadi Mainstream Tidak Terelakkan, Kata Pengawas Currency USD

Apa Itu Tapdole Finance, Project DeFi dari Indodax dan Tokenomy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *