Mata Uang Digital Bank Sentral Bukanlah Cryptocurrency

Akhir-akhir ini terdapat peningkatan minat baru di dalam mata uang digital bank sentral terbukti dengan China mengujicobakan DCEP (versi digital dari yuan digital) secara agresif dan beberapa bank sentral terkemuka di dunia (seperti Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa) mengomentari implementasi dari CBDC ini – dimana hal ini menunjukkan bahwa bank sentral yang terdapat di seluruh dunia melihat sisi positif dan negatif dari tujuan umum penawaran CBDC. Sekitar 80% dari bank sentral pada survey yang baru dilakukan mengatakan bahwa mereka sedang memperhatikan implementasi dari CBDC dan lebih dari setengahnya sudah melakukan projek eksperimental.

Belajar Lebih Dalam Tentang DeFi !

Bagaimana melipatgandakan uang Anda di ekosistem finansial blockchain dan me-manage risikonya ? Signup email Anda di bawah ini

Ketika berada pada masa krisis, cryptocurrency seperti ethereum dan bitcoin telah melewati badai ekonomi yang bersifat market-based – dimana mereka akan berfungsi baik dalam use case retail dan sebagai lindung nilai institusional begitu juga dengan pendekatan dengan gaya  filosofis baru untuk sumber daya komputasi. Perekonomian sedang dibentuk kembali dengan cara yang mendasar selama Covid-19 dan mata uang digital retail yang didukung oleh bank sentral akan menjadi yang berikutnya. Dengan naiknya minat pada cryptocurrency, perbandingan yang wajar untuk CBDC adalah standard mereka. Namun, dalam banyak hal penting, banyak dari impelementasi CBDC yang telah diusulkan bertentangan sepenuhnya dengan prinsip-prinsip cryptocurrency. Faktanya, argumen utama mengenai cryptocurrency selalu mengenai bagaimana cryptocurrency dapat berfungsi sebagai pelindung nilai bagi orang-orang yang tidak ingin dipaksa menggunakan alternatif digital untuk uang tunai yang didukung oleh bank sentral.

Baca juga : Apa itu Decentralized Exchange dan cara kerjanya ?

Hal pertama yang utama dan paling penting adalah bahwa cryptocurrency didukung oleh insentif jaringan node yang didistribusikan secara internasional sementara bank sentral memiliki satu tujuan sentral: kebijakan publik untuk satu negara atau bahkan jika bisa blok negara untuk mendapatkan hasil terbaik. Hal ini tentu akan membuat perbedaan yang mencolok.

Salah satu dari bank sentral ini cenderung untuk berfokus pada pekerjaan sementara perubahan inflasi pada upah di dapat kurang menjadi prioritas. Hal ini sebagian besar telah terjadi selama Covid-19 dengan ECB dan Federal Reserve berlomba untuk melonggarkan pembatasan inflasi sambil menargetkan lapangan kerja penuh untuk negara domestik mereka. Kedua, privasi dan self-custody tidak akan dihormati secara inheren dengan CBDC seperti halnya dengan cryptocurrency. Bank sentral berdekatan dengan otoritas pajak yang bekerja paling keras untuk menegakkan ketentuan anti pencucian uang – hubungan kedua institusi ini dapat dikatakan mirip dengan hubungan antara petugas polisi dan jaksa atau antara masing-masing departemen di universitas. Pertanyaan utama atas CBDC yang sedang dirancang agar sesuai dengan peraturan instansi terkait adalah siapa yang harus memiliki data – bukan apakah data tersebut harus ada atau tidak.

Tidak sulit untuk melihat metadata paksa yang dilampirkan pada setiap transaksi yang menggunakan CBDC dimana hasilnya akan diungkapkan secara selektif kepada agensi tertentu. Pada prakteknya, hanya cryptocurrency yang memungkinkan Anda untuk bertransaksi antar wilayah tanpa memaksakan diri Anda untuk mengikuti peraturan suatu negara sehingga memungkinkan Anda untuk mengekspresikan berapa banyak data yang ingin Anda bagikan tentang diri Anda. Asumsi yang langsung terjadi adalah ketika orang-orang menggunakan teknologi yang bersifat privacy-preserving sebagai praduga melakukan aktivitas kriminal (sesuatu yang baru-baru ini dikatakan oleh Departemen Kehakiman di Amerika Serikat) dan dorongan ini juga terjadi pada negara-negara lain yang mulai membatasi pemakaian end-to-end encryption.

Penekanan terakhir adalah cryptocurrency relatif teruji dalam pertempuran pasar.  Terdapat banyak alasan untuk menyerang sistem yang mendasari hal-hal yang terjadi di industri crypto mulai dari kerentanan exchange yang digunakan oleh banyak orang, masalah dengan self-custody dan identifikasi alamat wallet setelah penggunaan kembali dan juga kemungkinan terjadinya serangan chain-wide dan banyak lagi.

Fakta bahwa sistem ini telah mencapai skala seperti sekarang ini semakin mengesankan karena cryptocurrency tidak memiliki institusi pelindung di belakangnya. CBDC menghadirkan serangan yang lebih besar dari imprimaturitas negara – perlindungan untuk mata uang kertas yang telah berulang selama berabad-abad sementara serangan yang menyasar cybersecurity akan berasal dari peretas yang bermotif finansial.  Alih-alih evolusi insentif game-theoric, negara akan mengalami rentetan serangan dimana hampir semuanya terjadi sekaligus dimana mata uang digital belum pantas untuk mendapatkan kepercayaan dan legitimasi negara. Lagipula, seperti yang ditunjukkan oleh peretasan berskala besar, negara sendiri berjuang untuk melindungi informasi penting karyawan internal dan layanan penting seperti pemilu – menambahkan uang ke dalam cashflow negara memperluas kemungkinan adanya kelalaian negara.

Maka dapat dikatakan, cryptocurrency dan CBDC hadir untuk saling melengkapi namun ada perbedaan penting dan esensial di antara keduanya yang perlu disebutkan yaitu dibuatnya CBDC dapat dilihat sebagai bentuk sukses nya cryptocurrency dan dapat berkorelasi satu sama lain namun kenyataannya CBDC lebih bersifat kompetitif terhadap cryptocurrency dan bukan kolaboratif. Penciptaan dan distribusi CBDC yang tidak terelakkan adalah alasan utama mengapa cryptocurrency ada – tidak hanya sebagai nilai lindung finansial namun juga secara teknis.

 

Berita lain tentang blockchain dan DeFi

Prinsip Inti Central Bank Digital Currency oleh The Fed dan 6 Bank Sentral lainnya

 

Decentralized Finance Menjadi Mainstream Tidak Terelakkan, Kata Pengawas Currency USD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *